Duit JelasBelajar uang tanpa ribet

Kabar

Hampir Semua Orang Punya Produk Keuangan. Berapa yang Paham?

PALING GAMPANG

Jawaban singkatnya

Sekitar 94 dari 100 orang Indonesia sudah memakai produk keuangan, tetapi hanya sekitar 70 yang memahaminya.

Survei nasional terbaru menemukan hampir semua orang sudah memakai produk keuangan, tapi yang memahaminya jauh lebih sedikit. Selisih itu yang bikin banyak orang rugi.

Angkanya dulu

OJK, LPS, dan BPS baru mengumumkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026. Ada dua angka utama, dan yang menarik justru jaraknya.

Dua angka, satu jarak

Sudah memakai produk keuangan (inklusi)93,61%
Memahami produk keuangan (literasi)69,57%
Jaraknyasekitar 24 poin

Sumber: OJK, LPS, dan BPS, diumumkan 11 Agustus 2026.

Artinya, dari sepuluh orang yang sudah punya rekening, dompet digital, cicilan, atau asuransi, kira-kira tiga di antaranya belum benar-benar paham apa yang mereka pegang.

Apa bedanya punya dan paham?

AnalogiPunya motor dan tahu aturannya

Punya motor itu satu hal: kuncinya ada di tangan, mesinnya menyala. Tahu aturan jalan, tahu kapan rem blong berbahaya, tahu biaya servis, itu hal lain. Orang bisa punya motor bertahun-tahun tanpa pernah membaca satu pun aturannya, dan biasanya baru terasa saat ada masalah.

Inklusi keuangan mengukur yang pertama: berapa banyak orang yang memakai produk keuangan. Literasi mengukur yang kedua: berapa banyak yang mengerti apa yang dipakainya.

Siapa yang paling tertinggal?

Angka nasional selalu menyembunyikan perbedaan di dalamnya. Survei ini memecahnya, dan polanya konsisten.

Literasi menurut tempat tinggal

Perkotaan72,54%
Perdesaan64,42%

Inklusinya juga berbeda: 95,47% di kota, 90,39% di desa.

Literasi menurut kelompok umur

15–17 tahun56,04%
18–25 tahun73,32%
26–35 tahun78,70%
36–50 tahun73,81%
51–79 tahun60,01%

Paling rendah di dua ujung: yang paling muda dan yang paling tua.

Yang paling tajam justru perbedaan menurut pendidikan: 45,23% pada kelompok yang tidak tamat SD, naik terus sampai 93,46% pada tamatan perguruan tinggi.

Menurut pekerjaan, literasi tertinggi ada pada pensiunan (85,15%) dan pegawai atau profesional (85,12%). Yang terendah: belum bekerja (53,89%), petani dan nelayan (59,75%), lalu pelajar dan mahasiswa (62,72%).

Kabar baiknya apa?

Keduanya naik dibanding survei 2025, ketika literasi tercatat 66,64% dan inklusi 92,74%. Bahkan keduanya sudah melewati target pemerintah untuk 2029, yaitu literasi 69,35% dan inklusi 93%.

Tapi ada catatan yang perlu dibaca bersamaan dengan kenaikan itu.

Kenapa perbandingannya perlu hati-hati

  • Survei 2026 memakai 75.000 responden di 38 provinsi dan seluruh 514 kabupaten/kota.
  • Survei 2024 dan 2025 memakai 10.800 responden di 120 kabupaten/kota pada 34 provinsi.
  • Cakupan lembaga yang diukur juga diperluas pada 2026.
  • Untuk pertama kalinya survei ini dikerjakan bertiga oleh OJK, LPS, dan BPS.

Jadi angka 2026 berdiri di atas dasar yang jauh lebih luas. Kenaikannya tetap kabar baik, hanya saja membandingkannya dengan tahun sebelumnya bukan perbandingan yang benar-benar setara.

Pendataannya sendiri dilakukan tatap muka pada 26 Januari sampai 18 Februari 2026, oleh 3.480 petugas, kepada responden berusia 15 sampai 79 tahun.

Apa artinya buat Anda?

Kalau Anda pernah merasa bingung dengan produk keuangan yang sudah Anda pakai, angka di atas mengatakan satu hal penting: Anda tidak sendirian, dan itu bukan karena Anda bodoh.

Yang terjadi adalah urutannya terbalik. Produknya sampai duluan, penjelasannya menyusul belakangan, kadang tidak menyusul sama sekali.

Tiga hal kecil yang menutup jarak itu

  • Untuk setiap produk yang sudah Anda pakai, cari tahu satu hal: biayanya berapa, dan bagaimana cara berhentinya.
  • Sebelum menambah produk baru, pastikan Anda bisa menjelaskan cara kerjanya dengan kalimat sendiri.
  • Kalau ada yang tidak bisa Anda jelaskan, tunda dulu. Menunda tidak pernah merugikan sebesar salah paham.

Itu juga alasan situs ini ada. Bukan untuk menyuruh Anda memakai sesuatu, tapi supaya jarak antara memakai dan memahami tidak dibiarkan menganga.

Ringkasan satu menit
  1. Inklusi keuangan 93,61%, literasi keuangan 69,57%, jaraknya sekitar 24 poin.
  2. Yang paling tertinggal: perdesaan, usia paling muda dan paling tua, serta kelompok berpendidikan lebih rendah.
  3. Keduanya naik dari 2025, tapi cakupan surveinya jauh lebih luas sehingga perbandingannya tidak setara.
  4. Kalau Anda bingung dengan produk yang sudah dipakai, itu wajar dan bisa dikejar.

Istilah di halaman ini

Risiko

Paling gampang: Kemungkinan sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

Contohnya: Anda bawa payung bukan karena pasti hujan, tapi karena mungkin hujan.

Buka di kamus

Biaya

Paling gampang: Uang yang keluar bukan untuk membeli, tapi untuk mengurus.

Contohnya: Biaya transfer Rp 6.500 tiap kirim, biaya admin bulanan, potongan pajak.

Buka di kamus

Legalitas

Paling gampang: Apakah pihak yang menawarkan produk punya izin dan diawasi.

Contohnya: Nama perusahaannya bisa Anda cari sendiri di kanal resmi otoritas keuangan.

Buka di kamus

Anggaran

Paling gampang: Menentukan uang dipakai untuk apa saja, sebelum uangnya habis duluan.

Contohnya: Begitu gajian, uang langsung dibagi ke pos kebutuhan, belanja, dan simpanan.

Buka di kamus

Pahami dulu apa yang sudah Anda pegang, sebelum menambah yang baru.

Buka checklist

Sumber

Seluruh angka pada halaman ini berasal dari publikasi resmi OJK yang ditautkan di atas. Isi halaman ini edukasi umum, bukan rekomendasi produk atau ajakan berinvestasi.

Pelajaran yang berkaitan