Langkah 2 dari 7 — Pahami keuntungan
Kenapa Uang Bisa Menghasilkan Uang?
Jawaban singkatnya
Uang bertambah kalau ada orang lain yang memakainya untuk kegiatan yang menghasilkan, lalu membayar Anda karena sudah memakainya.
Uang yang diam di dompet jumlahnya tetap. Besok tetap segitu. Tahun depan tetap segitu.
Uang baru bertambah kalau uang itu dipakai bekerja oleh seseorang — dan orang itu mau membayar karena sudah memakainya.
Ayam yang cuma dipajang tidak menghasilkan apa-apa. Ayam yang dipelihara, diberi makan, dan dirawat bisa bertelur. Telurnya itu hasilnya. Ayamnya tetap ayam — itu modalnya.
Jadi pertanyaannya bukan “kenapa uang bertambah”, tapi “siapa yang memakai uang saya, dan dia dapat untung dari apa?”
Ada tiga cara umum uang bisa menghasilkan uang, dan ketiganya sama-sama punya risiko.
Tiga cara umum
- Dipinjamkan. Orang lain memakai uang Anda, lalu mengembalikannya lebih banyak sebagai imbalan. Tambahan itu disebut bunga.
- Dipakai berdagang atau berusaha. Uang jadi barang, barang dijual lebih mahal dari modal dan biaya. Selisihnya untung.
- Dibelikan sesuatu yang harganya bisa naik. Anda beli, lalu suatu hari ada orang mau membeli lebih mahal. Ini juga berarti harganya bisa turun.
Cara pertama dan kedua menghasilkan karena ada kegiatan nyata. Cara ketiga menghasilkan karena ada orang lain yang mau bayar lebih — dan itu tidak dijamin.
Contoh sederhana: warung
| Modal beli barang dagangan | Rp 1.000.000 |
|---|---|
| Barang terjual | Rp 1.300.000 |
| Biaya (transport, plastik, listrik) | Rp 120.000 |
| Sisa untuk pemilik modal | Rp 180.000 |
Untungnya bukan Rp 300.000. Biaya selalu ikut hitungan.
Bagian ini memakai istilah aslinya. Kalau terasa berat, tidak apa-apa dilewati.
Secara ekonomi, imbal hasil adalah kompensasi atas dua hal: penundaan konsumsi (Anda tidak memakai uang itu sekarang) dan penanggungan risiko (uang itu bisa tidak kembali penuh).
Karena itu, secara umum, semakin besar imbal hasil yang ditawarkan, semakin besar risiko yang sedang Anda tanggung — bukan karena aturan matematis, tapi karena pihak yang butuh uang mahal biasanya memang sulit mendapat uang murah.
Instrumen berbeda punya sumber imbal hasil berbeda: bunga (utang), laba (kepemilikan usaha), sewa (aset yang disewakan), dan selisih harga (perdagangan).
Boleh disalin apa adanya, lalu tanyakan ke siapa pun yang menawarkan sesuatu kepada Anda.
- Uang saya nanti dipakai untuk apa, tepatnya?
- Siapa yang memakainya, dan dia dapat uang dari mana?
- Kalau kegiatan itu sedang rugi, apa yang terjadi dengan uang saya?
Istilah di halaman ini
Modal
Paling gampang: Uang punya Anda yang dipakai untuk memulai sesuatu. Belum tambah, belum kurang.
Contohnya: Anda beli dagangan Rp 500.000 untuk warung. Rp 500.000 itu modal Anda.
Untung
Paling gampang: Sisa uang setelah modal Anda kembali dan semua biaya dibayar.
Contohnya: Dagangan modal Rp 500.000 laku Rp 650.000, ongkos angkut Rp 30.000. Untungnya Rp 120.000, bukan Rp 150.000.
Bunga
Paling gampang: Tambahan yang dibayar peminjam sebagai balas jasa memakai uang Anda.
Contohnya: Anda pinjamkan Rp 1.000.000, setahun kemudian dikembalikan Rp 1.080.000. Rp 80.000 itu bunga.
Risiko
Paling gampang: Kemungkinan sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Contohnya: Anda bawa payung bukan karena pasti hujan, tapi karena mungkin hujan.
- Uang yang diam tidak bertambah. Yang bertambah adalah uang yang dipakai.
- Selalu ada pihak yang membayar. Kalau tidak bisa ditunjuk siapa, hati-hati.
- Hasil dan risiko selalu datang bersamaan, tidak pernah sendirian.
Menandai selesai hanya menyimpan catatan di perangkat Anda. Tidak ada akun dan tidak ada sertifikat.